Powered By Blogger

Minggu, 27 Februari 2011

Lawan korupsi lewat pendidikan karakter

Korupsi telah menyebar dalam sendi hidup bangsa ini.Karena itu, perang panjang melawan korupsi tidak mungkin dimenangi tanpa ada perombakan sistem pendidikan, dari hanya pedulipada aspek kognitif menjadi lebih fokus membentuk karakter.
Demikian disampaikan sejumlah pembicara pada hari kedua seminar nasional Kompas tentang ”Korupsi yang Memiskinkan”, Selasa (22/2/2011) di Jakarta.
"Pendidikan kita hanya mengembangkan aspek kognisi. Tidak pernah dipertanyakan, cerdas dan pintar untuk apa. Seharusnya yang dididik dahulu adalah hasrat dan kebiasaan publik,"kata Karlina Supeli, pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Menurut Karlina, bangsa ini membutuhkan model"Restorasi Meiji" di Jepang, yang menekankan pendidikantiga tahun sesudah sekolah dasar untuk kewarganegaraan, pembentukan karakter, dan pendidikan tentang kehidupan bersama dalam masyarakat.
"Kita butuh sekolah yang sanggup melahirkan generasimanusia yang siap menjalin pengetahuan berbasis integritas, yang mengejar pengetahuan untuk kebaikan bersama, dan mengembangkan pengetahuan tidak terkorupsiserta bukan untuk korupsi," kata Karlina.
Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad SyafiiMaarif mengingatkan, korupsi hanya bisa dikalahkan oleh generasi yang memiliki idealisme tahan banting, bukan idealisme musiman yang rentan godaan benda dan kekuasaan. Dia juga mengkritik adanya pemisahanantara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial.
Zainal Arifin Mochtar, Direktur Pusat Kajian Anti-Korupsi Universitas Gadjah Mada, berharap Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) yang menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi serius mengembangkan kurikulum antikorupsi.
"Memang tidak mudah karena Kemdiknas juga sarang korupsi," kata Zainal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar